Rabu, 15 Juli 2020

Keep being a Minimalist :

Pentingnya Mindset dalam

Gaya Hidup Minimalis

Oleh : Shofia Rizka Julianti

Just In Case is the dangerous words in the worlds - Joshua “The Minimalist”

 

Beberapa tahun ini, gaya hidup minimalis menjadi trend dikalangan masyarakat dunia yang merasa jenuh dengan gaya hidup konsumtif. Hal itu didukung populernya trend Marie Kondo dengan metodenya Konmari. Stereotip yang akan bermunculan saat mendengar kata minimalis umumnya identik dengan sederhana, serba sedikit, dan barang-barang yang serba hitam-putih. Memang tidak salah, karena banyak praktisi minimalism yang melakukan hal itu. Tapi perlu kita ketahui, gaya hidup minimalis tidak sekedar menyederhanakan barang-barang atau biasa dikenal decluttering, untuk menerapkan gaya hidup minimalis sangat diperlukan pula mindset yang kuat.

Gaya hidup minimalis menurut The Minimalist diartikan sebagai alat untuk mengurangi excess agar dapat fokus ke hal-hal yang lebih esensial agar kita dapat merasakan kebahagiaan dan bebas. Minimalis juga diartikan dengan memaksimalkan penggunaan barang yang kita beli. Mengontrol apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita rasakan. Hal penting yang harus ditekankan, minimalism bukan tentang angka dan seberapa sedikit kita memiliki barang. Tapi minimalis adalah soal pemenuhan kebutuhan yang pas dan esensial. Base on budget dan hidup berkesadaran (mindfulness). Sadar kemampuan baik secara financial, pun kemampuan dalam mengkonsumsi sandang, pangan, papan. Dan semua hal yang terpapar adalah peran daripada mindset kita masing-masing.

Mengapa mindset sangat penting?

Seperti yang kita ketahui pada umumnya pelaku minimalism akan melakukan decluttering dengan memperingkas barang-barang mereka menjadi seminimal mungkin, entah dengan membuang barang-barang atau sekedar menata pakaian secara Flooding seperti konsep Konmari. Namun nyatanya gaya hidup minimalist bukan sekedar tindakan. Kita juga harus mampu meyakinkan diri, mengontrol pola pikir untuk kemudian tidak lagi membeli barang yang akan berakhir mubadzir. Jika kita tidak memiliki mindset yang kuat serta kemampuan yang baik dalam mengontrol diri, maka gaya hidup minimalis yang kita lakukan tidak akan bertahan lama, kita akan mulai jenuh dengan barang-barang yang hanya itu-itu saja dan kembali menjadi pribadi yang konsumtif. Apalagi jika sampai salah niat hanya karena mengikuti trend.

Mindset kuat seorang minimalis akan membuat mereka terarah untuk memilah mana yang benar-benar esensial dalam hidup mereka. Jika mampu hidup dengan beberapa barang, kenapa harus repot keluar banyak uang untuk membeli barang yang hanya satu-dua kali pemakaian. Ada baiknya uang itu kita gunakan untuk hal lain, semisal pengalaman. Andrew Oswald, seorang profesor ekonomi dari University of Warwick di Inggris, mengatakan bahwa saat ini orang-orang mengalami kekurangan akan pengalaman, bukan benda. Pengalaman dapat berupa moment bersedekah membantu sesama, menimba ilmu, liburan dan masih banyak lagi. Pengalaman memang tidak berwujud, tapi manfaat yang diperoleh akan terasa nyata.

Hingga pada akhirnya, mindset yang benar dalam berminimalis secara perlahan akan menuai banyak manfaat bagi pelakunya. Mereka akan lebih mudah mengatur pola hidup dan membuat hidup terasa puas dan berkecukupan dengan yang ada, mendapatkan kebebasan, fokus pada kesehatan, menemukan tujuan hidup, melakukan passion yang diinginkan, lebih menikmati waktu yang berkualitas, dan masih banyak manfaat lainnya.

Jadi setelah ini, alasan apa yang membuat kalian untuk tetap berlaku konsumtif?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar